Siapa yang tak kenal salah satu
jenis plastik yang akrab kita sebut dengan styrofoam. Styrofoam adalah salah
satu jenis plastik golongan 6 yang terbuat dari polisterin dan gas. Styrofoam
seringkali kita temukan sebagai penyangga pada kemasan barang elektronik
seperti Televisi, DVD Player, dan lainnya. Namun dewasa ini kita juga tidak
akan asing lagi menemui styrofoam yang digunakan sebagai kemasan makanan.
Styrofoam sebagai kemasan makanan didesain sedemikian rupa sehingga menjadi
sebuah wadah praktis dan efisien. Tak heran jika kemudian styrofoam menjadi pilihan
banyak pedagang makanan untuk mengemas makanan dagangannya. Para pelanggan pun
juga menggemari jenis kemasan yang satu ini. Tahan panas, efisien, dapat
mempertahankan bentuk, dan banyak lagi alasan bagi mereka untuk menggunakan
styrofoam.
Pola kehidupan yang telah beranjak
dari pola konvensional menuju pola modern membuat banyak orang menjadi sekte
anti-repot. Jika pada zaman lampau orang-orang tidak akan keberatan jika harus
membeli makanan yang dikemas menggunakan daun pisang ataupun piring sang pedagang,
maka kini hal yang demikian itu dianggap merepotkan dan tidak efisien. Namun
pertanyaannya, apakah mereka tahu bahaya dari penggunaan styrofoam? Seperti
yang telah kita singgung sedikit diawal, styrofoam adalah salah satu jenis
plastik golongan 6. Pada produk plastik golngan 6 biasanya Tertera logo daur ulang dengan angka 6 di
tengahnya, serta tulisan PS. PS (polystyrene) ditemukan tahun 1839, oleh Eduard
Simon, seorang apoteker dari Jerman secara tidak sengaja. PS biasa dipakai
sebagai bahan tempat minum sekali pakai, serta
tentunya sebagai bahan styrofoam, dan masih banyak
lagi lainnya. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat menyebarkan bahan styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan.
Selain dalam bahan styrofoam, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari,
karena selain berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada
wanita yang berakibat pada masalah reproduksi, dan pertumbuhan serta sistem syaraf, juga karena bahan ini sulit didaur ulang. Akhirnya kita akan seringkali
melihat benda putih satu ini berserakan disana-sini.
Pun bila di daur ulang, bahan ini memerlukan
proses yang sangat panjang dan lama. Bahan ini dapat dikenali dengan kode angka
6, namun bila tidak tertera kode angka tersebut pada kemasan plastik, bahan ini
dapat dikenali dengan cara dibakar (cara terakhir dan sebaiknya dihindari).
Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning jingga, dan
meninggalkan jelaga.
Nah kawan, setelah mengetahui bahaya penggunaan styrofoam, apakah
kita masih tak bergeming dari kebiasaan ala sekte anti-repot zaman
modern yang gemar menggunakan styrofoam sebagai kemasan makanan? Lagipula,
menggunakan bahan yang tidak dapat didaur ulang juga akan menyebabkan
pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem. Jadi, akan lebih bijak bila
mulai saat ini kita mengurangi penggunaan styrofoam, demi kesehatan kita, juga
demi menjaga lingkungan bagi anak-cucu kita kelak.(n.a)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar